Rabu, 12 September 2012

Kisah si Sendal Jepit

     Bisa berguna itu adalah segalanya bagiku. Sore itu aku yang masih terlihat rapi bersama teman-teman sedang menikmati tetes demi tetes hujan dari balik kaca. Teman-teman bersenda gurau menikmati sasana seharian ini. “yah maklum lah mereka baru datang minggu ini jadinya belum merasakan getirnya hidup di sini”, gumamku. Setiap hari pikiran ini hanya terusik oleh realita dari harapan yang tak kunjung datang. Teman-teman di masaku sudah pergi, padahal semangatku untuk menjadi lebih hidup jauh mengalahkan mereka.
     Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan dari pojok sana terdengar suara pintu terbuka. Bagiku hal seperti ini adalah klise, yah maklum saja sudah semusim aku di sini. “Ternyata benar itu adalah suara manusia” , kataku dalam pikir. Suara kakinya biasa saja tetapi raut muka orang ini sepertinya lain. “Kemeja kotak lengan panjang, kaca mata, jeans, dan tunggu dulu dia tidak memakai alas kaki”, tiba-tiba senyumku kembali terbentuk. Teman di sampingku juga memikirkan hal yang sama dengan aku. “selamat kak, akhirnya hari ini kakak pergi juga aku ikut senang ya kak tapi kakak juga kudu doain aku lhoh biar cepet pergi juga dari sini” kata sahabatku ini sambil tersenyum. Sahabatku ini memang satu yang perhatian daripada anak baru lain jadi kami sudah merasa seperti saudara kandung walaupun asal muasal kami berbeda. Manusia itu sedang ngobrol dengan Romy di dekat pintu masuk. Lama sekali kami menunggu sampai akhirnya dia mulai mengarahkan pandangannya ke kami. “Wahhh benar dia kesini”, kataku pada sahabatku. Setiap langkah yang dia tapaki membuat senyumku semakin lebar. Dia mulai melihat seluruh bagian tubuhku dari atas sampai bawah kemudian dia tersenyum. Dia mulai memungut bagian tubuhku sebelah kanan dan memeriksa sedangkan bagian tubuhku yang lain masih belum tersentuh. Setelah kedua bagian tubuhku membuat dia tersenyum akupun jadi sangat percaya diri. Aku tau, anak-anak baru di sebelah sana sangat tidak suka melihat ini cara mereka memandangku sungguh angkuh. Berbeda dengan mereka, sahabat di sampingku menampakkan senyum yang sangat tulus dengan mata berkaca-kaca.
     Romy kemudian datang mendekati manusia ini entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Romy memungut sahabatku ini dan manusia ini menurutinya begitu saja tanpa ada tindakan protes. Manusia ini nampaknya juga sedang memandangi sahabatku dengan serius bahkan lebih dari yang dia lakukan padaku tadi hanya bedanya tak ada senyum yang ia keluarkan dari mulutnya. Sahabatku hanya terdiam melihat seorang manusia melakukan hal ini. Tangan kirinya kemudian mengambil badan sahabatku yang lain kemudian bergegas menemui Romy. Aku bisa melihatnya, Romy mulai membungkusnya dengan plastik sementara manusia itu mengambil uang dari dompet. Sahabat mencari-cari arah pandangan ke arahku. Dia hanya terdiam memandangiku tak ada gerakan yang aku lihat dari mulutnya. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya walaupun hatiku sangat sakit tiba-tiba matanya mengeluarkan air. Manusia itu membawanya ke arah pintu dan akhirnya sahabatku pergi lebih dulu meninggalka tempat ini, dia lebih beruntung daripada aku.
     Aku hanya terdiam meratapi nasibku dan melihat senyum bahagia Romy yang uangnya bertambah. Kini tak ada lagi yang menghiburku bahkan anak-anak baru itu mulai menertawaiku berjamaah. Bisa kubayangkan mulai hari esok hidupku akan jadi lebih berat. Di depan dan sanpingku hanya ada muka angkuh dihiasi senyum kecil.  Biasanya sahabatku langsung memarahi mereka jika hal ini terjadi namun sekarang tak akan ada lagi yang seperti ini. Mungkin juga sahabatku sekarang sedang bersenang-senang dengan manusia itu di taman, mall, bioskop, atau di kampus dan dia juga mungkin sudah lepa kalau aku di sini selalu mengingatnya.