Bisa berguna itu adalah segalanya bagiku. Sore itu aku yang
masih terlihat rapi bersama teman-teman sedang menikmati tetes demi tetes hujan
dari balik kaca. Teman-teman bersenda gurau menikmati sasana seharian ini. “yah
maklum lah mereka baru datang minggu ini jadinya belum merasakan getirnya hidup
di sini”, gumamku. Setiap hari pikiran ini hanya terusik oleh realita dari
harapan yang tak kunjung datang. Teman-teman di masaku sudah pergi, padahal semangatku
untuk menjadi lebih hidup jauh mengalahkan mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan dari pojok sana
terdengar suara pintu terbuka. Bagiku hal seperti ini adalah klise, yah maklum
saja sudah semusim aku di sini. “Ternyata benar itu adalah suara manusia” ,
kataku dalam pikir. Suara kakinya biasa saja tetapi raut muka orang ini
sepertinya lain. “Kemeja kotak lengan panjang, kaca mata, jeans, dan tunggu
dulu dia tidak memakai alas kaki”, tiba-tiba senyumku kembali terbentuk. Teman di
sampingku juga memikirkan hal yang sama dengan aku. “selamat kak, akhirnya hari
ini kakak pergi juga aku ikut senang ya kak tapi kakak juga kudu doain aku lhoh
biar cepet pergi juga dari sini” kata sahabatku ini sambil tersenyum. Sahabatku
ini memang satu yang perhatian daripada anak baru lain jadi kami sudah merasa
seperti saudara kandung walaupun asal muasal kami berbeda. Manusia itu sedang
ngobrol dengan Romy di dekat pintu masuk. Lama sekali kami menunggu sampai
akhirnya dia mulai mengarahkan pandangannya ke kami. “Wahhh benar dia kesini”,
kataku pada sahabatku. Setiap langkah yang dia tapaki membuat senyumku semakin
lebar. Dia mulai melihat seluruh bagian tubuhku dari atas sampai bawah kemudian
dia tersenyum. Dia mulai memungut bagian tubuhku sebelah kanan dan memeriksa
sedangkan bagian tubuhku yang lain masih belum tersentuh. Setelah kedua bagian
tubuhku membuat dia tersenyum akupun jadi sangat percaya diri. Aku tau,
anak-anak baru di sebelah sana sangat tidak suka melihat ini cara mereka
memandangku sungguh angkuh. Berbeda dengan mereka, sahabat di sampingku
menampakkan senyum yang sangat tulus dengan mata berkaca-kaca.
Romy kemudian datang mendekati manusia ini entah apa yang
mereka bicarakan. Kemudian Romy memungut sahabatku ini dan manusia ini menurutinya
begitu saja tanpa ada tindakan protes. Manusia ini nampaknya juga sedang
memandangi sahabatku dengan serius bahkan lebih dari yang dia lakukan padaku
tadi hanya bedanya tak ada senyum yang ia keluarkan dari mulutnya. Sahabatku hanya
terdiam melihat seorang manusia melakukan hal ini. Tangan kirinya kemudian
mengambil badan sahabatku yang lain kemudian bergegas menemui Romy. Aku bisa
melihatnya, Romy mulai membungkusnya dengan plastik sementara manusia itu
mengambil uang dari dompet. Sahabat mencari-cari arah pandangan ke arahku. Dia hanya
terdiam memandangiku tak ada gerakan yang aku lihat dari mulutnya. Aku hanya
bisa tersenyum melihatnya walaupun hatiku sangat sakit tiba-tiba matanya
mengeluarkan air. Manusia itu membawanya ke arah pintu dan akhirnya sahabatku
pergi lebih dulu meninggalka tempat ini, dia lebih beruntung daripada aku.
Aku hanya terdiam meratapi nasibku dan melihat senyum
bahagia Romy yang uangnya bertambah. Kini tak ada lagi yang menghiburku bahkan
anak-anak baru itu mulai menertawaiku berjamaah. Bisa kubayangkan mulai hari
esok hidupku akan jadi lebih berat. Di depan dan sanpingku hanya ada muka
angkuh dihiasi senyum kecil. Biasanya sahabatku
langsung memarahi mereka jika hal ini terjadi namun sekarang tak akan ada lagi
yang seperti ini. Mungkin juga sahabatku sekarang sedang bersenang-senang
dengan manusia itu di taman, mall, bioskop, atau di kampus dan dia juga mungkin
sudah lepa kalau aku di sini selalu mengingatnya.